Minggu, 26 Agustus 2012

apakah kesempurnaan itu ada?



                Ok, banyak orang yang bilang kesempurnan bukanlah milik mortal seperti kita manusia ini, tetapi pernahkah pembaca mendengar sesorang meneriakan “sempurna” ketika ia berhasil menyelesaikan sesuatu?
                Nah, dari kasus diatas penulis mencoba mencerna apa yang dimaksudkan dengan kesempurnaan itu sendiri, apakah kesempurnaan itu ada? Ok. Coba kita bedah kasus realnya satu –persatu.
                Kasus pertama:pasangan hidup.“Nobody`s perfect” pasti kalimat itu udah familiar di telinga pembaca.memang tidak ada yang satu orang pun didunia ini yang tidak memiliki cacat, 100% garansi di dunia ini tidak ada manusia seperti itu.Tetapi apakah anda pernah merasa menemukan seseorang yang pas (sempurna) untuk mengisi ketidakesempurnaan anda sendiri? Sehingga anda merasa sempurna? Mungkin ada yang pernah dan juga sedang dalam pencarian, tetapi yakin nanti kita pasti akan bertemu wanita/pria seperti itu untuk menemani hidup kita, nah dari situ,  pertanyaan pertama muncul, jadi apakah ada pasangan yang sempurna/tidak?
                Kasus kedua:event organizer. Untuk yang suka jadi event organizer atau bagi para organisatoris, event dan persiapannya udah bisa disebut makanan utama. Jadi untuk point no. 2 ini pasti udah gak aneh lagi. Ketika kita megadakan suatu event pasti kita pengen event ini menjadi sesempurna mungkin, pokoknya mah event tuh KUDU flawless, tapi sekuat apapun kita berusaha, pasti dalam event kita ada cacatnya, seperti  dekorasi, penyambutan tamu, ketepatan waktu dll. Dan diakhir acara pasti ada yang menangis sedih karena gagalnya acara yang sedang berlangsung atau ada juga ada yang berteriak girang sambil meneriakan “sempurna” walaupun mereka menerima sedikit kritikan dari pesertanya. Nah yang aneh itu yang berteriak sempurna, kenapa mereka berteriak sempurna padahal mereka menerima kritikan? Jadi acaranya sempurna/tidak?
                Kasus ketiga: masterpiece. Ketika suatu karya dianggap memiliki kualitas yang tinggi tidak jarang karya tersebut disebut  masterpiece, dan beberapa kalangan menganggap bahwa karya masterpiece merupakan karya yang sempurna, akan tetapi ada juga orang yang menganggap karya masterpiece itu tidak sebagus yang mereka harapkan. Contohnya lukisan Mona Lisa-nya Leonardo Da Vinci, Mona lisa bukan hanya disanjung karena kehebatan tehnik sfumato and chiaroscuro, tetapi juga dari kemisteriusan senyuman yang kononnya istri dari Francesco del Giocondo (pedagang sutra di Florence) ini, ketenaran lukisan ini dapat kita ukur dari berapa banyaknya lukisan ini muncul di depan kita, mulai dari iklan, film, kartun bahkan novel sekalipun tidak jarang mengambil lukisan Mona Lisa sebagai salah satu elemen didalamnya, akan tetapi ada juga orang yang berpikir kalau Mona Lisa hanyalah lukisan wajah seorang wanita yang tidak memiliki arti apa-apa. Dari kasus ini muncul pertanyaan, kalau lukisan itu memang sempurna, kenapa ada 2 orang yang berbeda pendapat (meskipun mungkin salah satu nya ada yang tidak mengerti seni sama sekali)?

            Nah, dari ketiga contoh diatas penulis mencoba mengambil kesimpulan bahwa di dunia ini ada 2 tipe kesempurnaan, pertama: kesempurnaan tanpa cacat, inilah tipe kesempurnaan yang hanya bisa dicapai oleh zat yang maha sempurna. Dan yang kedua, sempurna menurut patokan kita masing-masing. Di tipe kedua ini, batas kesempurnaan ditentukan oleh subjek itu sendiri, jadi batas kesempurnaan bukanlah dilihat dari nilai objek tersebut tetapi dilihat dari sisi subjek yang melihat objek tersebut.
            Begitulah kesimpulan penulis akan kesempurnaanm tulisan ini pasti akan terus diupdate seiring dengan bertambahnya ilmu penulis.

tulisan ini merupakan bagian dari seri "gold under the stone"