Ok,
banyak orang yang bilang kesempurnan bukanlah milik mortal seperti kita manusia
ini, tetapi pernahkah pembaca mendengar sesorang meneriakan “sempurna” ketika
ia berhasil menyelesaikan sesuatu?
Nah,
dari kasus diatas penulis mencoba mencerna apa yang dimaksudkan dengan
kesempurnaan itu sendiri, apakah kesempurnaan itu ada? Ok. Coba kita bedah kasus
realnya satu –persatu.
Kasus
pertama:pasangan hidup.“Nobody`s perfect” pasti kalimat itu udah familiar di
telinga pembaca.memang tidak ada yang satu orang pun didunia ini yang tidak
memiliki cacat, 100% garansi di dunia ini tidak ada manusia seperti itu.Tetapi
apakah anda pernah merasa menemukan seseorang yang pas (sempurna) untuk mengisi
ketidakesempurnaan anda sendiri? Sehingga anda merasa sempurna? Mungkin ada
yang pernah dan juga sedang dalam pencarian, tetapi yakin nanti kita pasti akan
bertemu wanita/pria seperti itu untuk menemani hidup kita, nah dari situ, pertanyaan pertama muncul, jadi apakah ada pasangan
yang sempurna/tidak?
Kasus
kedua:event organizer. Untuk yang suka jadi event organizer atau bagi para
organisatoris, event dan persiapannya udah bisa disebut makanan utama. Jadi
untuk point no. 2 ini pasti udah gak aneh lagi. Ketika kita megadakan suatu
event pasti kita pengen event ini menjadi sesempurna mungkin, pokoknya mah
event tuh KUDU flawless, tapi sekuat apapun kita berusaha, pasti dalam event
kita ada cacatnya, seperti dekorasi,
penyambutan tamu, ketepatan waktu dll. Dan diakhir acara pasti ada yang
menangis sedih karena gagalnya acara yang sedang berlangsung atau ada juga ada
yang berteriak girang sambil meneriakan “sempurna” walaupun mereka menerima
sedikit kritikan dari pesertanya. Nah yang aneh itu yang berteriak sempurna,
kenapa mereka berteriak sempurna padahal mereka menerima kritikan? Jadi
acaranya sempurna/tidak?
Kasus
ketiga: masterpiece. Ketika suatu karya dianggap memiliki kualitas yang tinggi
tidak jarang karya tersebut disebut
masterpiece, dan beberapa kalangan menganggap bahwa karya masterpiece
merupakan karya yang sempurna, akan tetapi ada juga orang yang menganggap karya
masterpiece itu tidak sebagus yang mereka harapkan. Contohnya lukisan Mona
Lisa-nya Leonardo Da Vinci, Mona lisa bukan hanya disanjung karena kehebatan tehnik
sfumato and chiaroscuro,
tetapi juga dari kemisteriusan senyuman yang kononnya istri dari Francesco del
Giocondo (pedagang sutra di Florence) ini, ketenaran lukisan ini dapat kita
ukur dari berapa banyaknya lukisan ini muncul di depan kita, mulai dari iklan,
film, kartun bahkan novel sekalipun tidak jarang mengambil lukisan Mona Lisa
sebagai salah satu elemen didalamnya, akan tetapi ada juga orang yang berpikir
kalau Mona Lisa hanyalah lukisan wajah seorang wanita yang tidak memiliki arti
apa-apa. Dari kasus ini muncul pertanyaan, kalau lukisan itu memang sempurna,
kenapa ada 2 orang yang berbeda pendapat (meskipun mungkin salah satu nya ada
yang tidak mengerti seni sama sekali)?
Nah, dari ketiga contoh diatas
penulis mencoba mengambil kesimpulan bahwa di dunia ini ada 2 tipe
kesempurnaan, pertama: kesempurnaan tanpa cacat, inilah tipe kesempurnaan yang
hanya bisa dicapai oleh zat yang maha sempurna. Dan yang kedua, sempurna
menurut patokan kita masing-masing. Di tipe kedua ini, batas kesempurnaan ditentukan
oleh subjek itu sendiri, jadi batas kesempurnaan bukanlah dilihat dari nilai
objek tersebut tetapi dilihat dari sisi subjek yang melihat objek tersebut.
Begitulah kesimpulan penulis akan
kesempurnaanm tulisan ini pasti akan terus diupdate seiring dengan bertambahnya
ilmu penulis.
tulisan ini merupakan bagian dari seri "gold under the stone"


